16 Agustus 2014

Seputar Proklamasi Kemerdekaan RI

Juli 1945. Tentara Jepang semakin terdesak di dalam peperangan Asia-Pasifik. Kabar tentang hal itu tercium juga oleh gerakan anti-fasis di Indonesia.

Pada saat bersamaan, di Jakarta, sedang berlangsung pertemuan 80 orang tokoh perwakilan daerah. Mereka sedang membahas bentuk negara kelak jika Indonesia sudah dimerdekakan oleh Jepang.

Pada saat pertemuan, sekelompok pemuda meramaikan pertemuan itu. Mereka mendesak agar para tokoh itu tidak terlalu mengikuti syarat-syarat kemerdekaan yang didiktekan oleh penguasa Jepang. Soekarno berkali-kali memukulkan palu untuk menghentikan teriakan-teriakan pemuda itu.

“Hari sekarang terletak di tangan pemuda. Dan sebelum kami para pemuda bisa menerima syarat yang disodorkan oleh Nippon, kami akan nyatakan perang dengan Bung (Soekarno, pen),” kata Chaerul Saleh, salah satu pemimpin pemuda ini.

Sidang pun ditunda karena kegaduhan itu.

Kegelisahan para pemuda terdorong oleh berita kekalahan Jepang. Bagi para pemuda itu, kemunduran yang dialami tentara Jepang merupakan saat yang tepat untuk memproklamasikan kemerdekaan.

Tetapi Soekarno bersikap hati-hati. Soekarno beranggapan bahwa tindakan memaksakan kemerdekaan saat itu bisa memancing kemarahan tentara Jepang. “Kalau dipaksakan kehendak kita sekarang ini juga, sudah pasti akan terjadi penyembelihan besar-besaran oleh Jepang,” katanya.

Kejadian itu menandai ketegangan diantara Soekarno dan Pemuda terkait proklamasi kemerdekaan. Sebagian menandai peristiwa itu sebagai ‘pertentangan antara golongan tua dan golongan muda”. Sehingga, kesan yang muncul adalah: golongan tua bersikap peragu, sedangkan golongan pemuda mengambil haluan revolusioner.

Kami lebih suka menyebut ketegangan saat itu sebagai perdebatan antara gerakan legal dan illegal dalam melawan fasisme. Soekarno dan Hatta mewakili gerakan legal, sedangkan para pemuda mewakili gerakan illegal. Gerakan illegal saat itu dilakukan oleh beberapa kelompok: kelompok PKI/Amir Sjarifuddin, kelompok Tan Malaka, dan kelompok Sjahrir.

Di kalangan aktivis Menteng 31, ada beberapa orang yang dipengaruhi langsung oleh gerakan bawah tanah PKI. Sebut saja: Wikana, DN Aidit, dan MH Lukman. Aidit sendiri sudah sering melakukan kontak dengan Widarta, salah seorang pimpinan PKI bawah tanah. PKI sendiri menjalankan perjuangan melawan fasisme dengan menggunakan taktik Dimitrov.

Selain itu, beberapa aktivis Menteng 31, seperti Soekarni, Chaerul Saleh, dan Adam Malik, sangat dipengaruhi oleh Tan Malaka.  Tan Malaka sendiri, seperti ditulis oleh oleh Harry A. PoezedalamTan Malaka, gerakan kiri, dan revolusi Indonesia: Agustus 1945-Maret 1946, berkali-kali bertemu dengan aktivis Menteng 31.

Lalu, ada pula beberapa pemuda Menteng 31 yang dekat dengan Sjahrir, seperti Soebadio Sastrosatomo.

Tetapi, sekalipun ada perbedaan taktik, kedua gerakan ini saling mengisi. Sebagai missal, para pemuda-pemudi di Menteng 31 awalnya juga digembleng pendidikan politik oleh tokoh-tokoh seperti Bung Karno, Bung Hatta, Amir Syarifudin, Ahmad Soebardjo, dan Ki Hajar Dewantara.

Ada pula yang menyebut, bahwa dibawanya Soekarno –Hatta ke Rengasdeklot, sebuah daerah di Karawang, Jawa Barat, sebagai “peristiwa penculikan”.

Sidik Kertapati, misalnya, dalam buku Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945, mengisyaratkan bahwa evakuasi Soekarno-Hatta ke Rengasdeklot agar pelaksanaan proklamasi kemerdekaan bisa terhindar dari intaian Jepang.

Rengasdengklot sendiri, kata Sidik Kertapati, adalah basis gerakan anti-fasis pimpinan “Sapu Mas”. Sidik Kertapati juga mengisahkan bahwa Bung Karno dijemput pada tanggal 16 Agustus 1945 dini hari, sekitar pukul 04.00. Saat itu, dr. Muwardi yang ditugaskan membangunkan Bung Karno agak segan. Sehingga yang membangunkan Bung Karno adalah Chaerul Saleh.

Saat itu, kata Sidik Kertapati, Chaerul Saleh berkata kepada Soekarno: “Keadaan sudah memuncak, kegentingan harus diatasi! Orang-orang Belanda dan Jepang sudah bersiap-siap menghadapi kegentingan itu. Keamanan di Jakarta tak bisa ditanggung lagi oleh pemuda dan karena itu supaya Bung Karno bersiap berangkat ke luar kota.”

Hal serupa juga dialami Hatta. Ketika dibangunkan, Hatta sempat mendongkol. Tetapi setelah dijelaskan keadaan genting dan segala kemungkinan yang membahayakan jiwanya, maka Hatta pun bersedia ikut.

Soekarno sendiri, seperti dituturkannya dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat, menyebut kejadian itu sebagai “penculikan”. Tetapi, jika kita melihat dengan cermat berbagai percakapan yang dituturkan Bung Karno dalam buku itu, nampak jelas bahwa kejadian itu merupakan “upaya pengamanan” terhadap Bung Karno dan Bung Hatta.

Kejadian itu bermula, kalau kita lihat penuturan Bung Karno, dari diskusi pemuda di sebuah asrama (kemungkinan, di Jalan Cikini 71). Di situ, para pemuda sepakat membawa Soekarno keluar kota, supaya jauh dari pengaruh Kenpeitai dan sekaligus menunjukkan kesiapan pemuda untuk melakukan revolusi.

Dalam penuturan Soekarno, ketika sudah tiba di Rengasdengklot, ada seorang bernama Letnan Umar yang menjelaskan kepadanya, “bahwa dirinya menerima pesan dari Jakarta bahwa tanggal 15 akan dimulai pemberontakan oleh pemuda.”

Tetapi Soekarno mematahkan pernyataan itu. Soekarno mengatakan, “tidak kumelihat kekuatan yang besar. Tidak ada bom. Bahkan di daerah yang berdekatan tidak ada pembakaran milik-milik Jepang. Mana ada apa-apa. Semua kelihatan sangat tenang.”

Soekarno lalu berpesan, “Kalau begini caranya revolusimu, lebih baik dihidupkan sedikit lagi.”

Akhirnya, setelah jam enam sore, ketika usai berbuka puasa, Soekarno-Hatta dijemput pulang oleh Ahmad Soebardjo. Ahmad Soebardjo sendiri mengetahui kabar keberadaan Soekarno-Hatta dari Wikana, salah satu pimpinan pemuda. Artinya, jika serius Soekarno-Hatta diculik, kenapa Wikana memberitahu Ahmad Soebardjo.

Ada hal lucu, seperti dituturkan Soekarno, yaitu pada saat perjalanan pulang ke Jakarta. Di atas mobil rombongan itu ada Soekarni. Saat memasuki wilayah Klender, ada asap yang mengepul. Soekarni mengira bahwa asap itu pertanda revolusi sudah dikobarkan. Tetapi, setelah diperiksa, ternyata asap itu adalah jerami yang dibakar seorang petani.

Soekarno sendiri menuding Sjahrir-lah yang memanas-manasi pemuda untuk melakukan aksi itu. “Dia tertawa mengejek dengan diam-diam dan tidak pernah dihadapanku,” kata Soekarno.

Sjahrir sendiri mendengar kabar kekalahan Jepang pada 14 Agustus 1945. Segera setelah itu, Sjahrir dan Hatta menemui Soekarno di rumahnya, Jalan Pegangsaan Timur 56, dan meminta Bung Karno segera mengumumkan proklamasi kemerdekaan.

Soekarno, kata Sjahrir, setuju mengumumkan proklamasi itu tanggal 15 Agustus 1945. Tetapi, entah kenapa, Sjahrir kemudian menganggap Soekarno tidak serius.

Soekarno sendiri dalam buku “Penyambung Lidah Rakyat” mengatakan bahwa pada tanggal 14 Agustus malam, ketika para pemuda akan datang ke rumahnya, sedang menyusun perincian strategi proklamasi bersama Sayuti Melik dan SK Trimurti.

Besoknya, 15 Agustus 1945, seharusnya diadakan rapat Badan Persiapan Kemerdekaan untuk membahas susunan kata-kata naskah proklamasi kemerdekaan. Tetapi Soekarno tidak hadir karena sedang dibawa pemuda ke Rengasdengklot.

Sjahrir, yang tidak mau menunggu Jepang, terus mendesak Soekarno agar segera membacakan proklamasi. “Aku yakin saatnya telah tiba. Sekarang atau tidak sama sekali,” kata Sjahrir.

Konon, pada sore 15 Agustus, ribuan pemuda sudah berada di pinggir Jakarta. Rencananya, begitu proklamasi dibacakan, maka para pemuda itu akan menggelar aksi di stasiun Gambir dan merebut kantor Kenpeitai. Tetapi, ternyata Soekarno-Hatta belum akan mengumumkan proklamasi pada 15 Agustus itu.

Tetapi, kabar pembatalan ini tidak sampai ke Cirebon, Jawa Barat. Di kota itu, pada 15 Agustus 1945, dokter Soedarsono membacakan teks proklamasi dihadapan 150-an orang di alun-alun Kejaksaan.

Begitulah, bagaimana semangat revolusi mengalir dalam denyut nadi setiap pejuang bangsa Indonesia saat detik-detik menjelang proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 itu. (berdikarionline)

Artikel Terkait

Home