09 Agustus 2013

Tradisi Lebaran Suku Using Banyuwangi


Prosesi Hari raya Idul Fitri tidak hanya bersalaman saling memaafkan untuk melebur kesalahan sesama muslim usai salat Id, namun saat berbuka puasa di hari terakhir Ramadan atau malam takbiran menjelang hari raya juga memiliki makna bagi masyarakat Suku Using di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.

Warga Kemiren berkeyakinan di malam takbiran juga merupakan momen penting dari serangkaian perayaan Idul Fitri tersebut. Ditiap tahunnya mereka rutin menggelar tradisi "Selametan Lebaran" yang dilaksanakan dimasing-masing rumah.

"Tujuan Selametan Lebaran dilakukan agar seluruh keluarga diberi keselamatan saat unjung-unjung (Anjang sana) atau silaturahmi di Lebaran ini. Selain itu, ini juga untuk mendoakan para leluhur kita yang sudah meninggal," ujar Adi Purwadi (40), salah satu tokoh adat Desa Kemiren, Rabu (8/8/2013) malam. Seperti dilansir dari surabya.detik.com

Pria yang akrab disapa Kang Pur ini m menambahkan, Selametan Lebaran ini merupakan "Gong" dari beberapa rangkaian sedekah yang sudah dilakukan oleh masyarakat Using Kemiren yang memeluk agama Islam, khususnya untuk masa 3 bulan ke belakang.

Yang dimulai bulan Ruwah (kalender Jawa) dimana masyarakat using sudah melakukan selametan sedekah. Biasanya mereka menggelar acara pengajian atau selametan pada hari Minggu (malam Senin) dan Kamis (malam Jum'at). Hal ini, sambung Kang Pur, sebagai bukti nyata dan pembelajaran jika masyarakat using ini suka beramal.

Dalam Selametan Lebaran ini, masyarakat Kemiren berkelompok melakukan doa bersama dengan kerabat dan tetangga berjumlah sekitar 10 sampai 20 orang. Mereka secara bersama-sama mengunjungi rumah dari anggota tersebut secara bergantian. Mereka berdoa untuk para leluhur mereka dan untuk keselamatan tuan rumah dalam menjalankan perayaan Idul Fitri.

Uniknya, disaat anjang sana ditiap rumah anggota. Mereka diharuskan makan hidangan yang disediakan. Jadi jika anggota berjumlah 20 orang. Maka mereka akan bersantap bersama sebanyak 20 kali juga.

"Dimasing-masing rumah, tamu yang hadir dari kelompok tersebut harus makan hidangan yang sudah disediakan tuan rumah. Tapi sebelumnya, ada doa agar tuan rumah selamat, banyak rejeki dan sehat," urai Kang Pur.

Menyantap hidangan yang disediakan tuan rumah tentunya tidak mudah. Apalagi dalam satu kelompok yang berjumlah sekitar 10 sampai 20 orang. Perut akan terisi penuh dan terkadang tamu atau undangan selamatan hanya memakan krupuk atau buah-buahan saja.

Menu Selametan Lebaran bermacam-macam. Mulai dari ketupat lebaran lengkap dengan opor atau kare ayam hingga dendeng daging goreng serta sate. Semuanya dilakukan untuk melestarikan budaya adat dan tradisi yang mereka anut.

"Kadang kalau sudah kenyang kita hanya makan kerupuk. Dan tuan rumah memahami itu, soalnya mereka ikut juga mulai pertama. Jelas kenyang sekali," kelakar pria yang suka lelucon ini.

Artikel Terkait

Home